angga juner

angga juner

Senin, 25 Oktober 2010

KORBAN LEDAKAN TAMBANG DI RUSIA BERTAMBAH 43 ORANG

KORBAN LEDAKAN TAMBANG DI RUSIA

BERTAMBAH 43 ORANG

Berita

MOSKOW - Tambang batu bara di Rusia meledak dan menyebabkan puluhan orang tewas. Tambang yang meledak pekan lalu tersebut menyebabkan 43 orang tewas dan 54 lainnya dilaporkan hilang.

Insiden yang terjadi di tambang Raspadskaya ini dianggap sebagai kecelakaan tambang yang terburuk yang pernah terjadi selama tiga tahun terakhir. Lebih dari 350 penambang berada di dalam tambang saat dua ledakan terjadi di tambang yang berada di wilayah Kemerovo tersebut.

Sebagian besar dari 350 pekerja tambang berhasil menyelamatkan diri saat ledakan berlangsung. Tetapi nahas bagi 43 orang yang tewas, mereka diperkirakan terjebak saat ledakan terjadi. Sementara 54 pekerja lainnya hingga kini masih dalam proses pencarian.

Perdana Menteri Vladimir Putin menyempatkan diri untuk mengunjungi lokasi tambang yang meledakan pada hari Sabtu 8 Mei tersebut. Sementara Gubernur Kemerovo Aman Tuleyev, menyatakan jika regu penyelamat perlu bergerak cepat untuk menyelematkan para korban yang masih terjebak di dalam tambang. Demikian dilansir Reuters, Selasa (11/5/2010).

Raspadskaya sebagian dimiliki oleh industri baja Evraz, satu perusahaan yang 36 persen sahamnya dimiliki oleh milyuner pemimpin Perhimpunan Sepakbola Chelsea, Roman Abramovich.

Kecelakaan tambang serta sektor industri lainnya memang kerap terjadi di Rusia. Pejabat tinggi Rusia seringkali memperingatkan hal ini, mereka menilai kurangnya peningkatan batasan keselamatan dan aturan yang ketat atasan keselamatan kerja

Penyebab dari kecelakaan tambang ini masih belum diketahui, namun Menteri Keadaan Darurat Rusia Sergei Shoigu memperkirakan jika ledakan tersebut bisa saja terjadi akibat gesekan dari gas metana dengan debu dari batubara dan Kecelakaan tambang yang terjadi di Rusia, karena tuanya infrastruktur, pelanggaran-pelarangan ventilasi keselamatan dan kerusakan alat-alat pemantau tingkat-gas.

Ledakan pertama disebabkan oleh gas metan namun pihak yang berwenang tidak menyebutkan secara khusus apa penyebab ledakan kedua

Para petugas darurat berupaya memompa air dalam tambang, katanya menambahkan."Upaya-upaya pertolongan kini dilakukan untuk mengirimkan orang-orang yang tewas," kata Kemerovo, gubernur wilayah Aman Tuleyev, di tempat kejadian, menurut Itar-Tass.

Tambang di kota Mezhdurechensk memiliki cadangan sekitar 450 juta ton batubara, dan baru diproduksi 8,9 juta ton pada 2007, menurut perusahaan batubara terbesar di Rusia,Raspadskaya.

Ledakan-ledakan tambang dan kecelakaan pada industri lain telah memicu diulanginya kembali seruan-seruan para pemimpin Rusia.

Analisa (Permasalahan)

Pada perusahan tambang batubara di rusia ini mengalami kecelakaan yang mengakibatkan tewasnya sebanyak 43 orang. Adapun penyebab dari kecelakaan tambang ini diperkirakan karena terjadi akibat gesekan dari gas metana dengan debu dari batubara dan Kecelakaan tambang yang terjadi di Rusia ini juga, karena tuanya infrastruktur, pelanggaran-pelarangan ventilasi keselamatan dan kerusakan alat-alat pemantau tingkat gas.

Pada dasarnya Kesehatan dan Keselamata Kerja ( K3 ) sangat perlu diperhatikan karena menyangkut keselamatan jiwa pekerja baik dalam jangka waktu pendek maupun jangka waktu panjang. Akan tetapi masih sering ditemui kecelakaan tambang yang merugikan pekerja bahkan sampai mengancam keselamatan hidup pekerja tersebut. Tentunya terdapat factor-faktor penyebab kecelakaan itu. Maka itulah perlu dipelajari tentang factor-faktor penyebab kecelakaan sehingga dapat diketahui pemecahan masalahnya sehingga kecelakaan dalam pekerjaan ( kegiatan penambangan ) dapat dihindari.

Faktor-faktor yang mempengaruhi dari kecelakaan ini, antara lain:

Faktor SOP:

Ø Dimana terjadi pelanggaran-pelanggaran ventilasi keselamatan dimana mengakibatkan tewasnya orang akibat saluran udara yang tidak baik.

Ø Infrastruktur yang sudah tua, mungkin membuat bangunan sedikit rapu dan tidak kokoh. Dimana ketika terjadi ledakan bangunan langsung runtuh dan mengakibatkan orang terkurung didalam tambang.

Solusi :

Didalam pertambangan harus mengikuti standar perusahan dan mengutamakan keselamatan para karyawannya sehingga menghindari terjadinya kecelakaan dalam menambang. Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 BAB III Syarat-Syarat Keselamatan Kerja Pasal 3 ayat(1) Butir a-f yang berbunyi :
“ (1)Dengan peraturan perundangan ditetapkan syarat-syarat keselamatan kerja untuk:

a) Mencegah dan mengurangi kecelakaan;

b) Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran;

c) Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan;

d) Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian-kejadian lain yang berbahaya;

e) Memberi pertolongan pada kecelakaan;

f) Memberi alat-alat perlindungan diri pada para pekerja. ”

Faktor Manusia:

Ø Karyawan ceroboh dan tidak berhati-hati ketika melakukan pemgambilan batubara sehingga debu batubara mengalami gesekan dengan gas metana yang mengakibatkan ledakan dan ditambah kurangnya pengawasan dari atasannya.

Solusi:
Sebagai atasan seharusnya mengawasi para karyawan lapangan sehingga para karyawannya tidak melakukan kecerobohan. Pengusaha dan pengawas harus mematuhi keselamatan pekerjanya sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 BAB IV PENGAWASAN Pasal 5, yang berbunyi:

1. “Direktur melakukan pelaksanaan umum terhadap Undang-undang ini, sedangkan para pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja ditugaskan menjalankan pengawasan langsung terhadap ditaatinya Undang-undang ini dan membantu pelaksanaannya.”

2. “Wewenang dan kewajiban direktur, pegawai pengawas dan ahli keselamatan kerja dalam melaksanakan Undang-undang ini diatur dengan peraturan perundangan.”

Faktor Alat(mesin):

Ø Akibat dari alat pendeteksi tingkat gas yang mengalami kerusakan sehingga karyawan tidak mengetahui bahwa gas terjadi gesekan antara metana dengan debu batubara.

Solusi :

Disuatu perusahan harus memiliki alat yang baik dan canggih agar tidak mudah mengalami kerusakan dan suatu perusahaan juga harus memperhatikan alat-alat tambang agar tidak mengalami kecelakaan yang bisa menewaskan orang lain atau merugikan orang lain.Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1970 BAB II RUANG LINGKUP Pasal 2 ayat (1) dan (2) Butir a yang berbunyi :

1. Yang diatur oleh Undang-undang ini ialah keselamatan kerja dalam segala tempat kerja, baik di darat, di dalam tanah, di permukaan air, di dalam air maupun di udara, yang berada di dalam wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia.

2. Ketentuan-ketentuan dalam ayat (1) tersebut berlaku dalam tempat kerja di mana:

a. dibuat, dicoba, dipakai atau dipergunakan mesin, pesawat, alat, perkakas, peralatan atau instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan, kebakaran atau peledakan.”

delta sungai musi

DELTA SUNGAI MUSI

Sungai merupakan aliran air melalui suatu saluran yang mengangkut partikel-partikel atau material-material sedimen. Sungai membawa miliaran material sedimen , material ini merupakan hasil pelapukan yang tererosi oleh air sungai, sehingga sungai berfungsi merendahkan daratan dan meninggikan daratan agar terjadi keseimbangan.

Material-material sedimen yang di bawah oleh sungai musi akan diendapkan di muara sungai musi yang terletak di selat bangka. Daratan hasil pengendapan oleh sungai musi disebut akuatis. Bentang alam yang ada pada delta sungai musi antara lain meander, daratan banjir, tanggul alam dan delta sungai musi itu sendiri.

a. meander

Meander pada sungai musi merupakan sungai musi yang berkelok - kelok yang terbentuk karena adanya pengendapan. Proses berkelok-keloknya sungai musi dimulai dari bagian hulu sungai musi.Pada bagian hulu, volume air kecil dan tenaga yang terbentuk juga kecil. Akibatnya sungai mulai menghindari penghalang dan mencari rute yang paling mudah dilewati. Sementara, pada bagian hulu belum terjadi pengendapan. Pada bagian tengah sungai musi, yang wilayahnya mulai datar aliran air mulai lambat dan membentuk meander. Proses meander terjadi pada tepi sungai, baik bagian dalam maupun tepi luar. Di bagian sungai musi yang aliranya cepat akan terjadi pengikisan sedangkan bagian tepinya yang lamban alirannya akan terjadi pengendapan.Apabila hal itu berlangsung secara terus-menerus akan membentuk meander.Meander pada sungai musi terbentuk pada sungai bagian hilir, dimana pengikisan dan Pengendapan terjadi secara berturut turut. Proses pengendapan yang terjadi secara terus menerus akan menyebabkan kelokan sungai terpotong dan terpisah dari aliran sungai, Sehingga terbentuk oxbow lake (suatu bentuk yang seperti berbelok-belokan yang ada di sungai dan kelokan sungai yang terpotong tidak bias dialiri oleh air dari induk sungai.

b. Daratan Banjir dan Tanggul alam

Apabila terjadi hujan lebat, volume air sungai musi meningkat secara cepat. Akibatnya terjadi banjir dan meluapnya air hingga ke tepi sungai. Pada saat air surut, bahan bahan yang terbawa oleh air sungai akan terendapkan di tepi sungai. Akibatnya, terbentuk suatu dataran di tepi sungai. Timbulnya material yang tidak halus (kasar) terdapat pada tepi sungai musi. Akibatnya tepi sungai musi lebih tinggi dibandingkan dataran banjir yang terbentuk. Bentang alam itu disebut tanggul alam.

c. Delta

Pada saat aliran sungai musi mendekati muara, maka kecepatan aliranya menjadi lambat. Akibatnya, terkadi pengendapan sedimen oleh air sungai musi. Pasir akan diendapkan sedangkan tanah liat dan Lumpur akan tetap terangkut oleh aliran air. Setelah sekian lama , akan terbentuk lapisan - lapisan sedimen. Akhirnya lapian lapisan sedimen membentuk dataran yang luas pada bagian sungai yang mendekati muaranya dan membentuk delta sungai musi. Delta sungai musi membentuk sebuah segitiga ketika dilihat dari atas. Bagian tepi luar delta ini tererosi, dan salinitas beberapa laguna telah meningkat karena bertambahnya saluran sungai di selat bangka.

Secara umum sungai dibedakan menjadi tiga macam, yaitu: Sungai Muda (dimana sungai ini mempunyai lembah yang sempit, terdapat air terjun dan pola alirannya menyerupai hurup P), Sungai Dewasa (dimana sungai ini sudah mempunyai lembah yang mulai meluas dan tidak terdapat lagi air terjun) dan Sungai Tua (dimana Jarak antara tebing dangan pinggiran sungai masih ada pasir dan dataran sungai makin meluas, sehingga terjadi erosi dan mengakibatkan banjir). Dapat kita klasifikasikan bahwa sungai musi ini termasuk kedalam Sungai Tua karena sungai ini mempunyai lembah berbentuk U dan sudah berkelok-kelok (meandering) yang menandakan bahwa sungai tersebut sudah pada stadium tua.

magma dan aktivitasnya

Pengertian magma beserta aktivitasnya

A. Pengertian magma

Magma merupakan jenis batuan batuan yang cair yang terletak biasanya di dalam kamar magma di bawah permukaan bumi. Magma di bumi merupakan bagian dari larutan / cairan silika yang bersuhu tinggi yang kompleks dan merupakan asal muasal dari semua batuan beku. Magma berada dalam tekanan tinggi dan kadang bisa mencuat keluar melalui terbukanya gunung berapi dalam bentuk aliran lava ataupun letusan gunung berapi . Hasil letupan gunung berapi ini mengandung larutan gas yang tidak pernah sampai ke permukaan bumi. Magma terkumpul dalam kamar magma yang terasing di bawah kerak bumi dan mengandung komposisi yang berlainan menurut tempat magma itu didapati .

B. Aktifitas Magma di Bumi khususnya Indonesia

Aktifitas magma

Indonesia merupakan salah satu negara dengan jumlah gunung apinya yang terbesar di dunia. Kira-kira 179 gunung api yang terdapat di negeri ini dan 129 diantaranya masih aktif sampai sekarang. Karena hal inilah maka hampir setiap tahun paling sedikit satu gunung api melakukan erupsinya.
Aktivitas gunung merupakan pencerminan dari aktivitas magma yang terdapat di dalam bumi.

Aktivitas Volkanik
Aktivitas volkanik pada umumnya digambarkan sebagai proses yang menghasilkan gambaran yang menakjubkan, atau kadang menakutkan dari suatu bentuk struktur kerucut yang secara periodik melakukan erupsinya. Erupsi dari gunung api ini kadang –kadang merupakan letusan yang sangat gebat (eksplosif), tetapi kadang-kadang berlangsung dengan tenang. Faktor utama yang mengontrol macam erupsi gunung api adalah komposisi magma, temperatur magma dan kandungan gas yang terdapat dalam magma. Faktor-faktor tersebut sangat mempengaruhi mobilitas dari magma , atau sering disebut viskositas (kekentalan) magma. Semakin kental magma, semakin sulit magma untuk mengalir.
Komposisi kimia magma telah diuraikan pada bab sebelumnya dengan klasifikasi batuan beku. Satu faktor utama yang membedakan antara bermacam-macam batuan beku dan juga antara macam magma asala ialah kandungan unsur silika (SiO2). Magma pembentuk batuan beku basaltik mengandung kira-kira 50% silika. Batuan beku granitik mengandung sekitar 70% silika, sedang batuan beku menengah mengandung sekitar 60% silika. Jadi dapat dikatakan bahwa viskositas magma sangat berhubungan dengan kandungan silikanya. Semakin tinggi kandungan silikanya, maka magma semakin viskos dan aliran magma akan semakin lambat. Hal ini disebabkan karena molekul-molekul silika terangkai dalam bnetuk rantai yang panjang, walaupun belum mengalami kristalisasi. Akibatnya, karena lava basaltik mengandung silika yang rendah, maka lava basaltik cenderung bersifat encer dan mudah mengalir, sedangkan lava granitik relatif sangat kental dan sulit mengalir walaupun pada temperatur tinggi.


Kandungan gas dalam magma juga akan berpengaruh terhadap mobilitas dari magma. Keluarnya gas dari magma menyebabkan magma menjadi semakin kental. Keluarnya gas ini dapat pula menyebabkan tekanan yang cukup kuat untuk keluarnya magma melalui lubang kepundan. Pada waktu magma bergerak naik ke atas mendekati permukaan pada gunung api, tekanan pada bagian magma yang paling atas akan berkurang. Berkurangnya tekanan akan mengakibatkan lepasnya gas dari magma dengan cepat. Pada temperatur tinggi dan tekanan yang rendah, memungkinkan gas untuk mengembangkan volumenya sampai beberapa kali dari volumenya mula-mula. Magma basaltik yang kandungan gasnya cukup besar, memungkinkan gas tersebut untuk keluar melalui lubang kepundan gunung api dengan relatif mudah. Keluarnya gas tersebut dapat membawa lava yang disemburkan sampai bermeter-meter tingginya. Sedangkan pada magma yang kental, keluarnya gas tidak mudah, tetapi gas tersebut akan berkumpul pada kantong-kantong dalam magma yang menyebabkan tekanan meningkat besar sekali. Tekanan yang besar ini akan dikeluarkan dengan letusan yang hebat dengan membawa material yang setengah padat dan padat melalui lobang kawah gunung api. Jadi besarnya gas yang keluar dari magma akan sangat mempengaruhi sifat erupsi gunung api.


Material Erupsi Gunung Api

Material yang dikeluarkan oleh gunung api pada waktu erupsi bisa berupa lava, gas ataupun material piroklastik. Tiap gunung api mempunyai karakteristik tersendiri mengenai material yang dikeluarkan selama erupsinya.

Aliran Lava
Pada umumnya aliran lava terjadi pada lava bsaltik yang bersifat cair karena kandungan silikanya relatif kecil. Lava basaltik akan mengalir dengan mudah pada daerah yang luas atau kadang-kadang menyerupai bentuk lidah. Adakalanya aliran lava basaltik bisa mencapai puluhan kilimeter dengan kecepatan aliran antara 10 sampai 300 meter per jam. Sebaliknya aliran lava yang kaya silika sangat lambat sekali.
Aliran lava basaltik, kadang-kadang menghasilkan permukaan yang halus, tetapi juga kadang-kadang menghasilkan permukaan yang berkerut seperti bentuk tali. Bentuk lava yang demikian disebut dengan pahoehoe lava atau ropy lava. Bentuk lain yang juga umum terjadi adalah permukaan yang kasar, berbentuk blok-blok dengan tepi yang tajam, disebut dengan blok lava atau aa lava. Aliran dari aa lava biasanya tebal dan dingin, dengan kecepatan aliran sekitar 5 sampai 50 meter per jam. Blok lava ini terjadikarena bagian luar lava yang relatif cepat membeku, tetapi di bagian dalamnya relatif masih cair dan terus mengalir. Akibat aliran lava di bagian dalam ini akan menyebabkan bagian luar yang sudah membeku terpengaruh oleh aliran ini sehingga mengalami retakan dan membentuk blok-blok. Selain pada permukaannya juga terbentuk lubang-lubang bekas keluarnya gas.

Gas dan magma
Magma mengandung bermacam gas yang jumlahnya kira-kira 1 sampai 5% dari berat total, dan sebagian besar merupakan uap air.meskipun persentasenya kecil, tetapi jumlah gas yang dikeluarkan bisa mencapai ribuan ton per hari. Komposisi gas yang dikeluarkan dalam aktivitas gunung api mengandung 70% uap air, 15% karbon diosida, 5% nitrogen, 5% sulfur dan sisanya terdiri dari klorida, hidrogen dan argon.

Material Piroklastik
Material padat dan setengah padat yang dikeluarkan oleh gunung api pada waktu erupsinya disebut material piroklastik. Material fragmental ini mempunyai ukuran dari sangat halus sampai diameter beberapa meter. Sebagian besar material yang dikeluarkan ini diendapkan disekitar kawah, sehingga membentuk struktur kerucut gunung api.
Karena material piroklastik mempunyai ukuran fragmen yang sangat bervariasi, maka material piroklastik dapat dikelompokkan berdasarkan ukurannya. Partikel-partikel yang berukuran sangat halus disebut debu vulkanik (volcanic ash). Material ini terbentuk bila lava banyak mengandung banyak gas di dalamnya. Bila gas yang panas ini dieksplosifkan keluar, maka lava akan terurai menjadi partikel-partikel yang halus. Hal semacam ini bila dikeluarkan dalam ukuran yang relatif besar akan membentuk pumis. Bila debu volkanik yang panas ini jatuh di permukaan bumi, akan membentuk welded tuff, yang dicirikan adanya glass shard.
Partikel yang berukuran seperti kacang disebut lapilli, sedang partikel atau material piroklastik yang berukuran lebih besar dari lapilli disebut block bila dikeluarkan dari gunung api dalam keadaan padat, sehingga bentuknya meruncing. Sedang bila dikeluarkan dalam keadaan setengah padat sehingga bentuknya relatif membundar disebut bomb.

Gunung Api dan Erupsi Gunung Api
Erupsi gunung api yang berkelanjutan, akan menghasilkan material-material yang terkumpul di sekitar pusat erupsinya dan membentuk gunung api (volkano). Pusat erupsi gunung api yang biasanya terletak pada puncaknya disebut crater (kawaH0, berhubungan dengan dapur magma melalui semacam pipa. Beberapa gunung api mempunyai kawah yang sangat besar sampai beberapa kilometer diameternya yang disebut kaldera. Tidak semua gunung api mengeluarkan hasil erupsinya melalui lubang yang terpusat, tetapi kadang-kadang melalui suatu celah yang memanjang pada lerang gunung api tersebut. Aktivitas magma pada lereng gunung api membentik parasitik cone.
Setiap gunung api mempunyai sifat dan tipe erupsi yang berbeda-beda, sehingga masing-masing mempunyai bentuk yang berbeda pula. Berdasarkan sifat dan tipenya, maka gunung api dapat dibedakan menjadi tiga yaitu gunung api shield, cinder cone dan composit cone.
Kaldera diperkirakan terbentuk pada waktu terjadi erupsi yang sangat besar, sehingga dapur magma kosong. Kemudian karena kosongnya dapur magma, puncak gunung api tersebut runtuh ke dalam dapur magma sehingga membentuk lubang kawah yang sangat besar.
Erupsi celah (Fissure Erupsions)
Aktivitas erupsi gunung api melalui celah yang memanjang disebut fissure. Erupsi yang demikian akan menyebabkan penyebaran material volkanik sangat luas. Apabila material yang dikeluarkan merupakan lava basalt yang encer, akan membentuk flood basalt, yang dapat mengalir sampai berkilometer jauhnya.
Apabila lava yang dikeluarkan banyak mengandung silika, maka akan menghasilkan aliran piroklastik (pyroclastic flows) yang terdiri dari debu volkanik dan pumis.

Aktivitas Magma Dalam Bumi
Seperti telah diketahui dan dipercaya oleh sebagian besar orang, bahwa sebagian besar magma berada pada tempat yang sangat dalam. Mempelajari aktivitas magma di dalam bumi merupakan hal yang penting bagi ahli geologi seperti mempelajari aktivitas gunung api. Ada beberapa tipe dari bentuk tubuh batuan beku instrusif yang terbentuk pada waktu magma mengkristal di dalam bumi. Bentuk-bentuk tubuh tersebut ada yang tabular, dan ada pula yang masif. Selain itu sebagian tubuh batuan beku tersebut ada yang memotong perlapisan batuan sedimen dan ada pula yang menerobos diantara perlapisan batuan sedimen. Mengacu pada perbedaan-perbedaan tersebut, maka tubuh batuan beku dalam dapat digolongkan berdasarkan bentuknya apakah tabular atau masif, dan orientasinya terhadap batuan disekitarnya. Batuan beku dalam yang memotong batuan sedimen disebut diskordan, sedang yang sejajar dengan perlapisan batuan sedimen disebut konkordan.
Batuan beku intrusif mempunyai variasi ukuran dan bentuk yang sangat besar. Dike adalah batuan beku diskordan yang dibentuk oleh magma yang menerobos melalui retakan yang memotong perlapisan batuan sedimen. Tubuh batuan yang berbentuk tabular ini mempunyai ketebalan dari beberapa sentimeter sampai lebih dari satu kilometer, dengan panjanh dapat sampai beberapa kilometer. Umumnya dike lebih resisten terhadap proses pelapukan daripada batuan disekitarnya.
Sill adalah batuan beku yang tabular yang berbentuk ketika magma menerobos melalui bidang perlapisan batuan sedimen. Pada umumnya batuan beku sill mendatar, tetapi sebenarnya kedudukan sill sangat tergantung pada kedudukan perlapisan batuan sedimen disekitarnya. Dari ketebalannya yang seragam dan penyebarannya yang luas, maka sill dipercaya bahwa terbentuk dari magma yang sangat encer. Jadi pada umumnya sill disusun oleh magma basaltik. Selain itu sill pada umumnya terbentuk pada tempat yang relatif dangkal dimana tekanan yang dibentuk oleh batuan sedimen yang diterobosnya relatif kecil.
Lakolit merupakan batuan beku konkordan seperti sill yang terbentuk pada lingkungan dekat permukaan. Tetapi magma yang membentuk lakolit lebih kental. Tubuh lakolit terbentuk seperti lensa cembung ke atas. Lakolit pada umunya merupakan inti dari struktur kubah yang akan tersingkap apabila batuan sedimen yang menutupi diatasnya tererosi.
Batolit merupakan tubuh batuan beku diskordan yang sangat besar, dengan diameter lebih dari 40.000 km2. Batuan yang menyusun batolit biasanya mempunyai komposisi mineral yang mendekati tipe granitik. Batolit yang besar merupakan hasil dari kejadian yang berlangsung sangat lama lebih dari jutaan tahun, tetapi tubuh batolit yang relatif kecil umumnya disusun oleh satu tipe batuan beku. Batolit biasanya merupakan inti dari suatu sistem pegunungan. Atap batolit bentuknya tidak teratur. Bagian atap batolit yang cekung dinamakan roofpendant.

Aktivitas Magma dan Plate Tectonic
Asal magma merupakan topik yang sangat kontroversial dalam geologi. Pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul adalah bagaimana magma yang mempunyai komposisi berbeda terbentuk ? Mengapa gunung api yang berada di dasar samudera mengeluarkan lava basaltik, sedang yang berhubungan dengan palung laut menghasilkan lava andesitik ? Masih banyak lagi pertanyaan yang berkaitan dengan aktivitas magma terutama yang muncul ke permukaan. Untuk menjawab semua pertanyaan tersebut akan dibahas pertama kali asal-usul dari magma.
Asal Usul Magma
Seperti yang telah diketahui bahwa magma terbentuk apabila batuan dipanaskan hingga mencapai titik leburnya. Pada kondisi permukaan, batuan dengan komposisi granitik mulai melebur pada temperatur sekitar 750oC, sedangkan batuan basaltik mencapai temperatur 1000oC. Karena batuan mempunyai komposisi mineral yang sangat bervariasi, maka batuan akan melembur dengan sempurna dengan perbedaan temperatur sampai beberapa ratus derajat dari pertama kali batuan mulai melebur. Cairan yang pertama terbentuk pada waktu batuan mengalami pemanasan yang tinggi adalah mineral yang mempunyai titik lebur terendah. Bila pemanasan berlangsung terus, maka proses peleburan akan berlangsung terus mengikuti masing-masing titik lebur mineral yang menyusun batuan tersebut, sampai komposisi cairan mendekati komposisi batuan asalnya. Tetapi kadang-kadang proses peleburan ini tidak berlangsung sempurna. Proses peleburan yang bertahap ini disebut partial melting. Hasil yang signifikan dari proses partial melting adalah dihasilkannya cairan magma dengan kandungan silika yang lebih tinggi daripada batuan asalnya.
Darimana sumber panas yang melebur batuan ? Salah satu sumber panas yang berasal dari peluruhan mineral radioaktif yang terkonsentrasi pada mantel bumi bagian atas dan kerak bumi. Pekerja-pekerja tambang bawah tanah juga sudah lama mengetahui bahwa temperatur meningkat dengan bertambahnya kedalaman.
Jika temperatur merupakan satu-satunya yang menentukan apakah batuan akan meleleh atau tidak, maka bumi merupakan suatu bola pijar yang dilapisi oleh lapisan padat yang tipis. Tetapi ternyata tekanan juga bertambah besar sesuai dengan kedalaman. Karena batuan mengembang pada waktu dipanaskan, maka diperlukan tambahan panad untuk melelehkan batuan yang ditutupinya untuk mengatasi efek dari tekanan disekitarnya. Titik lebur batuan akan meningkat dengan meningkatnya tekanan.
Di alam, batuan yang dalam akan melebur oleh salah satu sebab dari dua faktor, yaitu pertama, batuan akan melebur karena temperatur naik melebihi titik lebur batuan tersebut. Kedua tanpa kenaikan temperatur, pengurangan tekanan disekitar batuan akan menyebabkan titik lebur batuan turun. Kedua proses tersebut merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam proses pembentukan magma.

Penyebaran Aktivitas Magma
Sebagian besar dari lebih 600 gunung api aktif yang telah diketahui terletak disepanjang busur pertemuan lempeng konvergen. Beberapa gunung api aktif terletak disepanjang pemekaran samudera. Ada tiga jalur gunung api aktif yang berhubungan dengan aktivitas tektonik global, yaitu disepanjang pematang oceanic, palung oceanic dan pada kerak oceanicnya sendiri.
Volkanisme pada sperading center. Batuan voklanik sebagian besar terbentuk disepanjang pematang benua dan pemekaran benua sangat aktif. Karena adanya pemisahan kerak samudera, maka tekanan pada mantel bagian atas berkurang. Berkurangnya tekanan ini menyebabkan turunnya titik lebur batuan. Partial melting batuan ini menghasilkan magma basaltik yang mengalir keluar melalui rekahan tadi.
Volkanisme pada zona subduksi. Aktivitas volkanisme pada daerah ini menghasilkan batuan yang berkomposisi andesitik sampai granitik, dan terbentuk disepanjang tepi kerak samudera. Sebagian besar volkanisme yang menghasilkan magma andesitik dijumpai di daratan atau pulau-pulau dekat dengan jalur palung laut. Jalur gunung api Meriterane dan Pasifik merupakan jalur gunung api yang dihasilkan pada zona subduksi.
Volkanisme pada kerak bumi. Proses aktivitas volkanik pada kerak yang tegar biasanya sangat sulit terjadi. Aktivitas volkanisme ini dapat menghasilkan lava basaltik, maupun lava granitik. Lava basaltik dapat terbentuk baik pada kerak benua maupun oseanik. Lava basaltik kemungkinan berasal dari partial melting batuan mantel bagian atas.
Lava granitik dan debu volkanik dengan komposisi granitik umumnya terbentuk pada daratan tepi benua. Lava jenis ini kemungkinan berasal dari pelelehan kerak benua.

TEKTONIK PULAU JAWA


Sebagaimana kita ketahui bahwa tektonik pada suatu pulau atau kawasan ditentukan dan dipengaruhi sifat gerak dan pergeseran lempeng litosfer yang saling bersentuhan. Untuk tektonik pulau jawa ini, terbentuk akibat dari peristiwa konvergen, dimana di kawasan konvergen ini, lempeng indo-Australia yang bergerak ke utara bertemu dengan lempeng Eurasia. Pertemuan kedua lempeng ini bersifat tumbukan. akibat dari tumbukan antar kedua lempeng ini, yang mengakibatkan terjadinya trench (palung laut), yang mana trench (palung laut) di pulau jawa ini bersifat tegak lurus atau frontal. Setelah itu, di pulau jawa ini mengalami Accretionary Complex. Accretionary complex disini berkembang sepanjang permukaan bumi dan mengandung lempeng pologen sampai ke recent sediment. Kemudian, pulau jawa mengalami terjadinya cekungan busur depan. Cekungan busur depan di pulau jawa ini tepatnya terbentuk di jawa bagian timur. Untuk Continental Crust, cekungan busur depan ini berkembang di jawa bagian barat, sedangkan untuk Oceanic Crush cekungan busur depan berkembang di sumbawa. Setelah mengalami cekungan busur depan, pulau jawa juga mengalami terjadinya cekungan busur tersier, yang mana cekungan ini terbentuk di sepanjang continental crust pada dasar selat sunda, sedangkan untuk oceanic crust cekungan ini berkembang sepanjang utara bali dan pulau Flores.

Tumbukan antar lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia ini tertekuk dan menyusup kebawah lempeng Fasific hingga masuk ke Astenosfer (zona subduksi), dimana di tempat ini merupakan kedudukan titik-titik focus Gempa tektonik. Pada saat terjadi zona subduksi, palung lantai samudra dan sedimen terakumulasi di dalamnya. Akibatnya sedimen tersebut terperangkap diantara lempeng, menjadi hancur, mengalami pergeseran dan teranjakan. Setelah mengalami pergeseran dan teranjakan, maka terbentuklah cekungan sedimen di pulau jawa. Pada laut jawa bagian barat, cekungan sedimennya berupa lipatan asymmetrical. Lipatan ini dicirikan adanya lipatan yang berupa cekungan yang melingkar menutup ke atas dengan adanya Graben. Dimana graben ini merupakan blok batuan yang letaknya lebih rendah akibat pengaruh topografi yang dikontrol oleh sesar.

Pengaruh dari tumbukan lempeng ini menyebabkan sedimentasi laut bagian selatan ini terbentuk atau terendapan bersama peristiwa pemekeran batuan pada lingkungan terrestrial. Pada umumnya pada zaman oligesin, pengendapan sedimen pada zaman ini sangat tebal terbentuk pada zaman oesen. Sedangkan sedimentasi laut jawa bagian timur, terbentuk sedimen klastik yang terbentuk di daratan pada eosin rendah dan terbentuk sedimen klastik di lautan pada zaman eosin tengah. di pulau jawa bagian timur terbentuk juga cekungan paleogene yang sangat dipengaruhi peristiwa extension (tekanan dari atas) subsidence, dan juga proses sedimentasi akan kontraksi secara regional dan mulai terangkat keatas akibat pengaruh lempeng tektonik dimulai pada zaman meosin awal.

Jadi dapat kita analisa bahwa Cekungan pulau jabar dapat juga menimbulkan tektonik, ini terjadi karena pada oligesin bertemu dengan miosen awal akibatnya terjadi pergeseran vertical 120 m di bagian timur cekungan jabar. Sedangkan cekungan pada Jatim minimbulkan dua kali fase tektonik yaitu fase miosen-pliosen (akan muncul orogen, dimana pelipatan dan sesaran kearah utara) dan Fase pleistosen (akan muncul orogen kedua, dimana pelipatan dan sesaran kearah utara). Sebelum kedua fase orogen tersebut terbentuk, terjadi perubahan posisi dari busur luar (kapur tengah-oligosen) menjadi busur dalam (setelah oligosin), ini disebabkan karena perubahan busur vulkanik.

Selain dari pengaruh tumbukan lempeng Indo-Australia dengan lempeng Eurasia, aktivitas gunung api atau vulkanisme di pulau jawa terjadi di bawah permukaan bumi, ini disebabkan karena tekanan dan temperature yang tinggi. Pada aktivitas vulkanik di pulau jawa maka yang terbentuk pormasi batuan andesit tua. Aktivitas vulkanik ini terakhir terjadi pada meosin awal dan tengah. Pengaruh yang banyak terjadi pada meosin akhir dan tengah.

AKTIVITAS TEKTONIK SULAWESI

AKTIVITAS TEKTONIK SULAWESI

Sulawesi secara garis besar merupakan bagian dari kesatuan negara republik indonesia (NKRI) dan juga merupakan kepulauan yang diapit oleh ketiga lempeng besar dunia yaitu, lempeng Eurasia, lempeng Indo-Australia, dan lempeng Pasifik. Pulau Sulawesi secara umum memiliki tiga struktur regional yaitu, accretionary complex yang terletak pada bagian barat yang terbentuk pada zaman Pre-cretaceous, batuan metamorfh dapat ditemukan pada central Sulawesi dan juga pada bagian tenggara yang juga terdapat ophiolite complex pada bagian timur dan juga pada tenggara. Batuan metamorfh termasuk baik dalam benua maupun samudra, sebagai akibat dari tusukan yang berlebihan pada lempeng bumi yang menjurus ke arah bagian barat berakhir pada Sulawesi bagian barat dan pengangkatan (up-lift) membentuk dearah pegunungan yang memiliki ketinggian hampir 3000 meter.

Sama halnya dengan Sumatera dan Jawa yang memiliki bukit barisan pada Sumatera, Sunda orogeny pada daerah Jawa, yang terbentuk karena adanya tumbukan antara lempeng Eurasia dan Indo-Australia yang mana tumbukan tersebut menyebabkan terjadinya pengangkatan (up-lift) yang menyebabkan terbentuknya orogeny (pegunungan). Untuk Sulawesi sendiri juga memiliki orogeny yang disebut sebagai neogene orogeny. Noegene orogeny terbentuk sebagai akibat dari adanya tumbukan antara dua fragmen benua (Button-Tukang Besi dan Baggai-Sula) pada Sulawesi bagian timur. Benua-benua kecil melepaskan diri dari central New Guinea, pengangkutan ke barat disepanjang daerah sistem sesar Sorong-Yapen oleh karena pergerakan pada lempeng di laut Philipine, dan di ikuti oleh pendinginan daerah bagian timur pada garis tepi di ophiolite complex. Microcontinents (benua-benua kecil) tertekan/tertusuk di bawah pada ophiolite, pengangkatan menyebabkan perlipatan, pensesaran, dan memunculkan ophiolite dan pelagic mencakup diatas 3000 meter a.s.l.

Orogeny terbentuk karena adanya tumbukan antara dua lempeng besar yaitu lempeng Eurasia dan lempeng Indo-Australia yang mengakibatkan terjadinya pengankatan (up-lift) yang diikuti oleh intrusif magma yang menyebabkan terbentuknya orogeny (pegunungan). Dengan terbentuknya orogeny pada pulau Sulawesi yang disebut sebagai neogene orogeny secara otomatis menyebabkan terbentuknya aktivitas magmatic terjadi pada daerah Sulawesi. Aktivitas magmatic pada Sulawesi terbntuk pada daerah Sulawesi bagian Barat. Magma terbentuk akibat aktivitas yang ada karena cretaceaous sampai eocene terjadi kristalisasi magma yang menyebabkan intrusif batuan yang tererupsi selama jangka waktu yang pendek pada pertengahan Miocene sampai Pliocene (3-18 Ma) pemanasan lithosper. Pada akhir Miocene Australian-New Guinea tersubduksi dibawah timur-tanah Sunda.

Kita sering mendengar tentang sesar semangko, yaitu sesar yang terletak di Sumatera, yang terbentang dari Kutacane di Aceh sampai pantai Liwa di Lampung. Sesar semangko terbentang di sepanjang Sumatera dengan Padang Panjang, Sumatera Barat sebagai central sesar yang bergerak secara dextral (menganan). Terlepas dari sesar semangko yang ada di Sumatera, di Sulawesi sendiri terdapat sesar Palu-Koro. Sesar Palu-Koro sendiri terbentuk dari tumbukan yang juga dihasilkan oleh NNW-SSE Palu-Koro dengan gerakan sesar sinistral (mengiri). Pergerakan sesar ini juga di karenakan oleh gaya transtensional, yang terdiri dari gaya transpressive (menekan) dan extensional (perluasan). Pergerakan transtensional selama masa quaternary (masih berlangsung hingga masa kini) membentuk kepingan-kepingan basin seperti danau Poso, Matano dan Towuti, dan Palu depression.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Cara Mengurangi Bahaya Tambang

Di artikel ini sudah dibahas perihal perbedaan antara hazard and risk.

Disana juga diulas mengenai penanganan bahaya yang mesti diprioritaskan pada critical hazard (bahaya kritis) yang dapat menyebabkan kerugian besar.

Sebagai lanjutan, disini akan dibahas tentang Hierarchy of Control atau urutan penanganan bahaya. Penanganan mesti dimulai dari kondisi dengan bahaya (hazard) dan resiko (risk) terbesar.

Berikut adalah Hierarchy of Control dalam penanganan bahaya dan resiko:

Eliminasi

Cara ini mengharuskan penghilangan bahaya secara total. Karena tidak ada lagi bahaya, kemungkinan kecelakaan menjadi nol.

Contoh: Ada perenang dengan ikan hiu. Tindakan eliminasi ditempuh dengan memindahkan/membunuh hiu, hingga perenang terbebas dari bahaya.

Substitusi

Cara ini diambil untuk mengurangi tingkat bahaya. Sumber bahaya utama diganti dengan sesuatu yang kurang membahayakan.

Contoh: Hiu diganti dengan boneka sponge bob.

Isolasi

Isolasi ditempuh untuk memisahkan atau mengurangi potensi bahaya yang mungkin diderita pekerja.

Contoh: Dibuat tembok beton untuk memisahkan antara perenang dengan hiu.

Rekayasa

Cara ini ditempuh dengan desain atau modifikasi hardware untuk mengurangi potensi bahaya.

Contoh: Dibuatkan kerangkeng untuk perenang agar terhindar dari gigitan hiu.

Administrasi

Dicapai dengan melakukan perubahan prosedur untuk mengurangi potensi bahaya.

Contoh: Memasang tanda “Awas Ada Hiu” sebagai peringatan untuk perenang.

Alat Pelindung Diri

Melengkapi pekerja dengan alat pelindung untuk mengurangi keparahan jika terjadi peristiwa tak diinginkan.

Contoh: Melengkapi perenang dengan baju besi untuk menangkal gigitan hiu.

Alat-alat Keselamatan Wajib Bagi Pekerja Tambang Bawah Tanah

Pekerja tambang bawah tanah memiliki tantangan dan resiko yang berbeda dibanding dengan mereka yang bekerja di permukaan.

Di tulisan ini dan itu sudah dibahas soal resiko keselamatan dan kesehatan para pekerja di terowongan. Akibat lingkungan kerja yang berbeda mereka pun perlu dilengkapi dengan alat-alat keselamatan yang berbeda.

Berikut adalah alat keselamatan yang melekat pada seorang pekerja tambang bawah tanah:

1. Helm

Fungsi helm pengaman sudah jelas, untuk melindungi kepala dari jatuhan batu atau benda lainnya. Helm yang digunakan di terowongan agak berbeda dengan yang dipermukaan. Helm pekerja tambang bawah tanah memiliki tepi yang lebih melebar dengan cantelan di bagian depan untuk mengaitkan lampu kepala.

2. Lampu kepala

Malam dan siang hari di terowongan tak ada bedanya: sama-sama gelap. Itu sebab, lampu kepala jadi wajib dikenakan. Lampu ini bisa bertenaga aki (elemen basah) atau batere (elemen kering) yang digantung di pinggang. Dibanding batere, aki memiliki beberapa kelemahan. Selain ukuran dan bobot aki yang lebih berat, cairan asam sulfat yang bocor dapat merusak pakaian.

3. Kacamata keselamatan

Tidak hanya pekerja tambang bawah tanah, yang bekerja di permukaan pun sebenarnya wajib mengenakan alat pelindung ini. Untuk orang berkacamata minus atau plus, disediakan lensa khusus sesuai dengan kebutuhan yang bersangkutan. Yang pasti, lensa ini tidak boleh terbuat dari kaca, karena jika terjadi benturan dan lensa pecah, serpihan kaca malah akan membahayakan penggunanya.

4. Respirator

Respirator atau masker berguna untuk melindungi jalur pernapasan para pekerja. Respirator yang digunakan adalah respirator khusus, jadi tidak sekedar kain kasa putih yang biasa digunakan untuk menangkal influenza. Respirator ini mesti memiliki filter yang dapat diganti-ganti. Penggunaan filter harus disesuaikan dengan keadaaan, apakah untuk menangkal debu atau gas berbahaya.

5. Sabuk

Sabuk ini terutama digunakan sebagai cantelan berbagai alat keselamatan lain. Setidaknya ada dua alat yang melekat setia pada sabuk, aki/batere untuk lampu kepala dan self resquer. Sabuk juga dilengkapi kait di bagian belakang yang dapat digunakan untuk cantelan alat-alat tangan (kunci inggris, palu) atau senter.

6. Self resquer

Dalam kondisi darurat akibat kebakaran atau ditemukannya gas beracun, alat inilah yang dapat jadi penyelamat para pekerja. Alat ini dirancang dapat memasok oksigen secara mandiri kepada pekerja. Tidak lama memang, tapi ini diharapkan memberikan cukup waktu bagi pekerja untuk mencari jalan keluar atau mencapai tempat pengungsian yang lebih permanen.

7. Safety vest

Safety vest adalah nama lain untuk rompi keselamatan. Rompi ini diengkapi dengan iluminator, bahan yang dapat berpendar jika terkena cahaya. Bahan berpendar ini akan memudahkan dalam mengenali posisi pekerja ketika berada di kegelapan terowongan. Ini menjadi penting untuk menghindari tertabrak ketika mereka mesti bekerja dengan alat-alat berat.

8. Sepatu boot

Dengan kondisi terowongan yang umumnya berlumpur, sepatu boot menjadi kebutuhan pokok. Sepatu pendek hanya akan menyebabkan kaki terbenam dalam lumpur. Sepatu boot ini juga mesti dilengkapi dengan sol berlapis logam dan lapisan logam untuk melindungi jari kaki.

9. Alat tambahan

Untuk pekerja yang melakukan tugas khusus, alat pelindung ini bisa bertambah. Untuk bekerja di ketinggian, pekerja memerlukan safety harness. Alat ini digunakan sebagai pelindung jatuh, agar ketika terpeleset, pekerja tetap tertahan dan tidak berdebam. Pekerja yang melakukan pengelasan, juga membutuhkan alat pelindung mata atau muka khusus.